Ide kecil untuk bumi ;)
Ide-ide ini sudah lazim ditelingan kita, saya disini cuma mengingatkan kembali saja. Kejadian ini berulangkali saya alami, ketika menegur beberapa mahasiswa sewaktu mereka membuang sampah sembarangan. Sederhana teguran saya sewaktu itu “ tolong dong sampahnya dibuang ditempat sampah, jangan dibuang sembarangan “, ternyata mereka terperanjat dan kemudian menjawab, “ suka-suka kami dong buang disini, biar petugas kebersihan ada tugasnya “…glek, saya pun menelan liur dibarengi emosi yang naik (maklum masih muda, emosi masih berapi-api). Saya jawab balik, “ kalian ini mahasiswa apa bukan sih, diminta buang sampah pada tempatnya ajah susah ?!”, mereka balik tanya ke saya “ kalo kita buang sampah yang benar, terus nanti petugas kebersihan, nggak ada kerjaan dong ?? buat apa mereka dibayar ?? …dug, rasanya hati saya di iris-iris, dengan senyum kecut saya menyingkir dari mereka, takut jadi debat kusir karena emosi mereka naik, emosi saya pun ikutan naik dan pembicaraan itu berakhir tanpa pencerahan bagi kedua belah pihak. Inilah masalah pertama yang ingin saya bicarakan adalah soal membuang sampah pada tempatnya.
Awal saya “tobat” untuk tidak membuang sampah sembarangan lagi adalah ketika menjadi panitia seminar tentang kebersihan kota tahun 2006 oleh BEM ITS yang menghadirkan pembicara dari Dinas Kebersihan kota Surabaya dan Ibu Anggraeni, pakar banjir dosen Teknik Sipil ITS. Adapun yang dibicarakan pada acara itu adalah bahwa sampah beribu-ribu ton dihasilkan oleh masyarakat kota Surabaya dalam sehari ! Sungai-sungai di Surabaya yang disesaki oleh sampah sehingga mengalami pendangkalan dan kebiasaan masyarakat yang masih menganggap bahwa sungai dapat mengolah sampah sehingga sungai dijadikan pembuangan akhir serta sempat ada jeletukan dari salah satu peserta yang menyatakan bahwa mereka yang membuang sampah sembarangan adalah kurang berpendidikan ! dug..dugg..sempat tersinggung juga rasanya, tapi itu memang benar kenyataanya, membuang sampah sembarangan adalah kebiasaan buruk. Belum lagi ditambah dengan komentar Ibu Anggraeni bahwa sampah menjadi salah satu penyebab banjir di kota-kota besar di Indonesia. Mulailah hari itu saya mencoba memantapkan hati untuk berusaha tidak membuang sampah sembarangan…
Pernah membayangkan seandainya sampah selama 50 tahun dikumpulkan di satu daerah ??? akan jadi gunung sampah yang seberapa tinggi dan lebar ?? hehehe. Permasalahan sampah hampir selalu jadi masalah besar di setiap kota besar tapi sampai detik ini belum ada solusi yang terintegrasi mantap jika masing-masing personal dari diri kita masih mengabaikan masalah yang tampak sepele ini. Membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan plastik, mengajarkan anak-anak kita untuk mencintai alam bukan hanya jadi penikmat alam yang hobinya travelling saja tanpa mau berbuat untuk lingkungan sekitar. Nggak mau kan mati karena tertimbun sampah ?? seperti kasus di TPA Luwi Gajah, jangan dech yah !
Permasalahan kedua yang ingin saya angkat adalah mengenai disiplin untuk para perokok. Pajak cukai dari rokok, sangat besar di negara ini dan juga pabrik-pabrik rokok menyerap banyak tenaga kerja. Tentunya kita semua sadar bahwa bahaya rokok begitu menakutkan, seperti serangan jantung,impotensi ,kanker dan banyak penyakit lainya. Rekan-rekan semua juga sering mendengar alasan dari para perokok yang menyebutkan bahwa mereka merokok karena sudah jadi kebiasaan, kalo nggak merokok nggak bisa mikir, merokok hak pribadi karena merokok juga pakai uang sendiri, mereka tetap merokok karena jika nanti pabrik rokok tutup maka akan banyak pengangguran dan pemasukan negara berkurang, serta ada juga yang berpendapatan bahwa merokok melambangkan kejantanan. Entah apapun alasan mereka, memang itu hak perogratif tetapi hak perogratif orang lain juga untuk bebas dari asap rokok, perokok pasif lebih rentan terhadap penyakit, semua orang berhak untuk sehat. Tentunya sebagai manusia yang punya akal kita harus saling menghormati hak-hak orang lain, sehingga saya sangat mendukung adanya peraturan yang membatasi gerak perokok di ruang publik, karena asap rokok sangat menganggu. Inilah yang perlu di disiplinkan, para perokok yang hobi melanggar merokok di sembarang tempat. Pernah kejadian, di kapal tujuan Pontianak-Surabaya waktu itu saya pulang lebaran, diruangan kapal sudah ada aturan dilarang merokok tetapi ada segerombolan penumpang yang dengan nyantainya tetap saja merokok, karena saya sudah sulit bernafas dan banyak keluhan diam dari penumpang lain, saya coba memberanikan diri untuk menegur gerombolan bapak-bapak itu, setelah saya tegur mereka tidak mengubris bahkan menatap saya dengan pandangan sinis … karena tampang mereka cukup menakutkan, dengan langkah ringan saya laporkan mereka ke satpam maka berhentilah mereka merokok. Nah … apakah harus aparat yang mengingatkan baru para perokok mau mendisiplinkan diri ??? tentunya harapan saya itu tidak perlu terjadi, harusnya kita saling menghargai, makanya ditempat-tempat tertentu ada tulisan SMOKING AREA sebagai wujud penghargaan buat perokok.
Perlahan-lahan harusnya kita menjauhi rokok, karena terlalu banyak “mudhoratnya”. Mengenai pergantian teknologi dan tenaga kerja, tentunya banyak teman-teman yang lebih berkompeten untuk mencarikan solusi yang lebih konkret untuk menurunkan “ prestasi “ Indonesia sebagai bangsa yang rakyatnya paling banyak merokok nomor tiga di dunia.
Masih banyak hal kecil lainya yang bisa kita lakukan untuk bumi tercinta ini, tapi baru dua hal ini yang dapat saya bagikan karena dua hal kecil ini yang masih konsisten saya lakukan, yaitu membuang sampah pada tempatnya dan tidak merokok.
Pastinya tidak perlu ada perdebatan panjang lagi di DPR RI maupun DPRD mengenai biaya kesehatan untuk korban rokok ataupun pembebasan lahan untuk TPA sampah dan anggaran dananya dapat kita gunakan untuk menambah anggaran di bidang pendidikan. Cerdas masyarakat Indonesia, cerdas negeriku.
Mari cintai bumi dengan memulai dari kebiasaan yang baik