Hikmah dimana saja
Abis maem tadi langsung gosok gigi, nggak tau kok tiba-tiba kepikiran lulus kuliah, terus kerja, bisnis dan menikah …deg ! kepikiran mati, aku jadi takut jadi kepikiran. Sudah siapkah mati ?? Sudah berapa banyak dosa yang kulakukan ?? Beberapa hari ini badanku lemas, sakit. Walau tetap berangkat ke kampus, karena aku yakin kalo di kos pasti kerjanya tidur ajah. Ngak produktif walau sebenarnya beberapa minggu ini di kampus pun aku sudah kurang produktif, tulisanku mulai jarang terbit buat menghangatkan suasana kampus (lebih tepatnya, provokasi). Mulai jenuh dengan rutinitas, malas. Bahaya sekali, merasa nyaman adalah bahaya ! itu yang kutakutkan selama ini … Mulailah mengingat- ingat kembali hal yang dapat memotivasi kita (baca:kontemplasi)
Hikmah buat kita …
Sekitar satu minggu lalu, aku sempat bercakap-cakap dengan seorang anak kecil kelas 4 SD. Dia adalah anak yang biasa memunguti sampah-sampah yang bisa dijual lagi (baca:pemulung). Dari sorot mata dan keceriaanya aku tau anak itu adalah anak cerdas, dia bagiku termasuk beruntung karena bisa sekolah untuk anak yang biasa menjadi pemulung. Pemulung ? apakah mereka pernah bercita-cita menjadi pemulung ? tentunya tidak, tapi keadaan memaksa. Anak sekecil itu harus bekerja untuk memberikan tambahan nafkah buat orang tuanya, aku merasa malu. Sudah sebesar ini masih minta ke orang tua, bisnis yang kujalani (dunia : mediator/makelar) belm mebuahkan hasil secara materi tapi kalo secara pengalaman sudah banyak banget. Bercakap-cakap sama dia, dengan bercanda dan lainya, ya rasanya seprti ponakan ku sendiri… banyak bicara, cerdas dan kritis. Semoga itu jadi modal bagi adek “pemulung” tadi untuk menghadapi hidup yang kejam ini, belum banyak yang bisa saya bantu … mungkin dengan tulisan ini akan mengingatkan saya padamu. Hikmah itu dimana saja ..
January 14, 2009 at 4:44 am
kurusi dikit tuh badan ………………….masak aktivis kok kelebihan body………………….he……………
January 14, 2009 at 6:27 am
Hai kak randi, UAS Fisika Komputasinya sukses ya kak.
Papa Rohedi cerita kalo tadi beliau marah-marah. Masyak sepakar itu papa Rohedi diremehkan oleh dosen muda yang masih bahu kencur. Ya ini hikmah tersendiri bagi papa untuk segera mengurus pensiun dini. Kata papa Rohedi Bangsa Indonesia tidak layak di majukan…
Da kakak, salam kenal ya…
Denaya…
January 15, 2009 at 11:28 am
Pengenya sieh nguruis badan, tapi nggak mau kurus-kurus nieh … heee
Wah.. Denaya, akhirnya mapir juga. Kalo menurut saya, itulah tugas penting kita untuk memajukan Indonesia, walau apapun kondisinya kita tidak boleh menyerah karena mencerdaskan orang lain adalah salah satu bagian dari Dakwah jadi saya kira Prof Rohedi nggak perlu menyerahlah, justru harusnya merasa tertantang dengan keadaan begini. Dulu, untuk mewujudkan masa Renaissaince juga para ilmuwan eropa harus sampai berkorban nyawa, apalagi mereka ditentang oleh pihak gereja. Kondisi sekarang tentu jauh berbeda kan ?? saya yakinlah Prof. Rohedi bisa menyikapi ini dengan bijak, semangat untuk bapak. Dalam setiap keringat yang dikeluarkan pasti akan terbayar nanti. Entah secara materiil maupun kebanggaan. Indonesia pasti akan bangga terhadap bapak , cuma mungkin belum sekarang saatnya ….
May 2, 2009 at 1:56 am
Pas banget kalo Asurandi bertekad jadi bisnisman, tapi syaratnya harus bisa nge-create angka kaya, apa itu? Ya angka pi yang tanpa ujung itu. Jangan khawatir brother kini sudah tersedia Formula eksak termudah untuk munculin Pi Number, itu lho yang Rohedi posting di http://eqworld.ipmnet.ru/forum/viewtopic.php?f=3&t=148. Nah kalo pengin dapat jodoh yang jelita nan molek klik aja address Rohedi, disana ada info tentang ajian pelet pi(Phi) number yang membuat lawan jenis kita terpesona.