Seorang remaja laki-laki mengenakan pakaian putih dan celana panjang
abu-abu berjalan santai diantara perbatasan dua Negara, Indonesia-Malaysia
sambil mengernyitkan dahi memandang jauh kemudian matanya berbinar-binar,
rasanya sesak dada membandingkan kedua Negara serumpun ini diperbatasanya,
mudah sekali membedakannya. Pengalaman pribadi ini masih kuingat walaupun
sudah hampir lima tahun berlalu. Perjalanan ke pos lintas batas (PLB)
Entikong, saat itu adalah tour sekolahku SMA Negeri 1 Ngabang. Jarak dari
kotaku ke Ibu kota Propinsi Kalimantan Barat yaitu Pontianak sejauh 177 km
sedangkan jarak kotaku ke perbatasan Entikong Indonesia – Tebedu Sarawak
Malaysia cuma sejauh 140 km. Sungguh ini perjalanan yang mengesankan
karena dari hal ini aku belajar kedua Negara dari cara mereka mengelola
perbatasannya. Indonesia negaraku dan Malaysia Negeri jiran kita.
Sesak dadaku waktu itu karena perih akan realita yang kulihat diperbatasan
kedua negara, Indonesia yang kubanggakan rasanya hancur berkeping-keping
saat itu. Realita apakah yang kulihat ? akan saya paparkan. Melihat areal
perbatasan di wilayah Indonesia, berjejalan pedagang kaki lima yang tidak
teratur dipasar yang dekat sekali dengan kantor imigrasi Indonesia, tidak
jauh dari itu terdapat tempat prostitusi bahkan dipinggir-pinggir jalan
raya utama banyak terdapat warung makan kaki lima yang tidak layak, sampah
berserakan dipinggir-pinggir jalan, para calo valas (valuta asing) yang
berkeliaran menawarkan penukaran uang dari Rupiah ke Ringgit Malaysia
ataupun sebaliknya, parkir kendaraan yang sangat tidak mengindahkan
estetika, begitu kompleks sekali rasanya apa yang kulihat saat itu. Ketika
saya melangkah masuk ke wilayah Malaysia, yaitu Tebedu setelah melewati
kantor imigresyen Malaysia (logat melayu untuk pengucapan kata
immigration). Masuk tanpa paspor ketika itu dibolehkan bagi pelajar
Indonesia yang berseragam, waktu itu kami cuma ijin masuk melihat wilayah
Malaysia, pemandangannya sangat jauh berbeda. Jalan raya yang bersih dan
mulus, banyak pepohonan disekitar jalan raya, tidak ada sampah yang
berserakan dijalanan, tidak ada pedagang kaki lima yang semrawut, parkir
yang tampak rapi bahkan para calo valas tidak kelihatan di Wilayah
Malaysia. Sungguh inilah yang membuat mataku berbinar, perbedaan
pemandangan ini sungguh tragis. Akhirnya saat itu kusempatkan berfoto di
wilayah Malaysia dengan rekan-rekanku di plang besar bertuliskan TEBEDU
karena aku yakin suatu saat nanti kita mampu mengelola perbatasan Negara
kita jauh lebih baik dari Malaysia.
Lebaran 2008 kemaren ketika pulang kampung ada hal yang membuatku
terkejut, biasanya snack dan minuman kaleng berkarbonat saja yang
kutemukan dirumah adalah produk SDN BHD (perusahaan-perusahaan Malaysia)
tetapi ketika itu aku temukan tabung gas dirumah adalah punya PETRONAS.
Lha, apa yang sebenarnya terjadi ??? 17 tahun hidup di pedalaman
Kalimantan Barat aku merasakan sepertinya kami yang hidup jauh dari pulau
jawa ini, bukan bangsa Indonesia. Kenapa ??? karena seperti di anak
tirikan, pembangunan di pulau Jawa begitu pesat, tingkat kualitas
pendidikan di Jawa jauh lebih baik dibandingkan ditempatku begitu yang
kulihat di televisi waktu itu, untuk menonton channel televisi Indonesia
saja kami harus membeli perangkat parabola lengkap dengan receivernya
itupun kadang gambarnya belum tentu bagus sedangkan untuk menonton
televisi Malaysia cuma butuh antenna setinggi 4-5 meter sudah bisa
ditonton dengan kualitas gambar yang bagus tanpa perlu membeli perangkat
parabola dan receiver yang waktu itu cukup mahal harganya. Produk-produk
makanan dan minuman Malaysia lebih mudah didapatkan dan harganya lebih
murah dibandingkan dengan produk Indonesia. Begitu juga kasusnya kenapa
dirumahku menggunakan gas dari PETRONAS karena gas dari PERTAMINA stock di
kotaku habis dan yang adapun harganya mahal sekali, salahkah kami yang
membeli produk Negara lain dan banyak diantara kami yang rasa Nasionalisme
nya mulai meluntur ??? Walau sekarang sudah masa otonomi daerah tapi
kondisi berubah maju dengan lambat, bahkan sudah jadi rahasia umum di
Kalimantan Barat bahwa PLB Entikong adalah salah satu gerbang human
trafficking atau perdagangan manusia. Penyelundupan-penyelundupan barang
pun banyak sekali yang dilakukan oleh “preman” yang berseragam dan mereka
juga sering melakukan pungutan liar (pungli) pada TKI illegal yang
melintas atau orang-orang Malaysia yang masuk bahkan dari pungli itu
mereka bisa mendapatkan 3 juta rupiah setiap orang dalam satu hari ketika
lagi ramai, informasi ini kuketahui langsung dari temanku yang sering
melakukan penyelundupan peralatan elektronik dari Malaysia yang harganya
jauh lebih murah di bandingkan dengan harga pasar di Indonesia dan aparat
yang bertugas dilapangan, chaos sekali kondisinya. Inilah kebiasaan yang
mulai membudaya dan sudah jadi rahasia umum, tentunya praktek illegal
seperti ini harus dihapuskan ! Kita memang masih payah mengelola wilayah
perbatasan.
Dari berita yang kubaca, kondisi pulau Sebatik, propinsi Kalimantan Timur
yang berbatasan langsung dengan Sabah Malaysia tidak jauh berbeda. Kondisi
jalan di pulau ini berupa jalan yang tidak beraspal, jika hujan mengguyur
maka akan susah melintasi jalanan daerah ini karena becek dan licin. di
Kotanya, kondisinya relatif lebih ramai, ada berbagai jenis kendaraan dan
listrik, namun listrik yang ada di pulau ini sangat minim, sehingga sangat
sulit memperoleh fasilitas listrik yang bisa digunakan untuk mendukung
industri menengah apalagi untuk industri besar, tentunya ini salah satu
penghambat kemajuan.
Dari pulau sebatik, jika kita memandang ke arah utara, maka akan terlihat
dengan jelas kota Tawau Malaysia, jika melihat pemandangan kota Tawau dan
kemudian membandingkan dengan kondisi Sebatik saat ini sungguh bagaikan
bumi dan langit. kota Tawau begitu maju dan berkembang pesat secara
ekonomi, sementara Sebatik, masih saja diam di tempat dan tidak beranjak.
Inilah gambaran nyata dari kondisi daerah perbatasan di Negara kita,
mungkin kondisi ini tidak jauh berbeda dengan perbatasan dengan Papua
Nugini maupun Timor Leste. Banyak hal tentunya yang masih bisa kita
lakukan untuk memperbaiki kondisi ini, karena wilayah perbatasan sangat
rentan.
Menurut saya, pembangunan infrastruktur yang berkesinambungan dan
peningkatan kualitas pendidikan harus jadi prioritas sehingga rasa
nasionalisme yang luntur itu dapat terobati dengan kepedulian Negara yang
tidak mendiskriminasikan daerah tertentu dalam pembangunan. Pemerintah
daerah, pemerintah pusat, pihak swasta dan masyarakat setempat harus
bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di perbatasan
sehingga tidak terulang lagi kasus lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan
maupun Timor-timur, tentunya ini menjadi tugas rumah kita semua dan butuh
kerja keras semua pihak untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan
berdaulat.
Ya’Asurandi