Lihatlah Kami di Perbatasan !

Posted in Uncategorized on February 18, 2009 by asurandi

Seorang remaja laki-laki mengenakan pakaian putih dan celana panjang
abu-abu berjalan santai diantara perbatasan dua Negara, Indonesia-Malaysia
sambil mengernyitkan dahi memandang jauh kemudian matanya berbinar-binar,
rasanya sesak dada membandingkan kedua Negara serumpun ini diperbatasanya,
mudah sekali membedakannya. Pengalaman pribadi ini masih kuingat walaupun
sudah hampir lima tahun berlalu. Perjalanan ke pos lintas batas (PLB)
Entikong, saat itu adalah tour sekolahku SMA Negeri 1 Ngabang. Jarak dari
kotaku ke Ibu kota Propinsi Kalimantan Barat yaitu Pontianak sejauh 177 km
sedangkan jarak kotaku ke perbatasan Entikong Indonesia – Tebedu Sarawak
Malaysia cuma sejauh 140 km. Sungguh ini perjalanan yang mengesankan
karena dari hal ini aku belajar kedua Negara dari cara mereka mengelola
perbatasannya. Indonesia negaraku dan Malaysia Negeri jiran kita.

Sesak dadaku waktu itu karena perih akan realita yang kulihat diperbatasan
kedua negara, Indonesia yang kubanggakan rasanya hancur berkeping-keping
saat itu. Realita apakah yang kulihat ? akan saya paparkan. Melihat areal
perbatasan di wilayah Indonesia, berjejalan pedagang kaki lima yang tidak
teratur dipasar yang dekat sekali dengan kantor imigrasi Indonesia, tidak
jauh dari itu terdapat tempat prostitusi bahkan dipinggir-pinggir jalan
raya utama banyak terdapat warung makan kaki lima yang tidak layak, sampah
berserakan dipinggir-pinggir jalan, para calo valas (valuta asing) yang
berkeliaran menawarkan penukaran uang dari Rupiah ke Ringgit Malaysia
ataupun sebaliknya, parkir kendaraan yang sangat tidak mengindahkan
estetika, begitu kompleks sekali rasanya apa yang kulihat saat itu. Ketika
saya melangkah masuk ke wilayah Malaysia, yaitu Tebedu setelah melewati
kantor imigresyen Malaysia (logat melayu untuk pengucapan kata
immigration). Masuk tanpa paspor ketika itu dibolehkan bagi pelajar
Indonesia yang berseragam, waktu itu kami cuma ijin masuk melihat wilayah
Malaysia, pemandangannya sangat jauh berbeda. Jalan raya yang bersih dan
mulus, banyak pepohonan disekitar jalan raya, tidak ada sampah yang
berserakan dijalanan, tidak ada pedagang kaki lima yang semrawut, parkir
yang tampak rapi bahkan para calo valas tidak kelihatan di Wilayah
Malaysia. Sungguh inilah yang membuat mataku berbinar, perbedaan
pemandangan ini sungguh tragis. Akhirnya saat itu kusempatkan berfoto di
wilayah Malaysia dengan rekan-rekanku di plang besar bertuliskan TEBEDU
karena aku yakin suatu saat nanti kita mampu mengelola perbatasan Negara
kita jauh lebih baik dari Malaysia.

Lebaran 2008 kemaren ketika pulang kampung ada hal yang membuatku
terkejut, biasanya snack dan minuman kaleng berkarbonat saja yang
kutemukan dirumah adalah produk SDN BHD (perusahaan-perusahaan Malaysia)
tetapi ketika itu aku temukan tabung gas dirumah adalah punya PETRONAS.
Lha, apa yang sebenarnya terjadi ??? 17 tahun hidup di pedalaman
Kalimantan Barat aku merasakan sepertinya kami yang hidup jauh dari pulau
jawa ini, bukan bangsa Indonesia. Kenapa ??? karena seperti di anak
tirikan, pembangunan di pulau Jawa begitu pesat, tingkat kualitas
pendidikan di Jawa jauh lebih baik dibandingkan ditempatku begitu yang
kulihat di televisi waktu itu, untuk menonton channel televisi Indonesia
saja kami harus membeli perangkat parabola lengkap dengan receivernya
itupun kadang gambarnya belum tentu bagus sedangkan untuk menonton
televisi Malaysia cuma butuh antenna setinggi 4-5 meter sudah bisa
ditonton dengan kualitas gambar yang bagus tanpa perlu membeli perangkat
parabola dan receiver yang waktu itu cukup mahal harganya. Produk-produk
makanan dan minuman Malaysia lebih mudah didapatkan dan harganya lebih
murah dibandingkan dengan produk Indonesia. Begitu juga kasusnya kenapa
dirumahku menggunakan gas dari PETRONAS karena gas dari PERTAMINA stock di
kotaku habis dan yang adapun harganya mahal sekali, salahkah kami yang
membeli produk Negara lain dan banyak diantara kami yang rasa Nasionalisme
nya mulai meluntur ??? Walau sekarang sudah masa otonomi daerah tapi
kondisi berubah maju dengan lambat, bahkan sudah jadi rahasia umum di
Kalimantan Barat bahwa PLB Entikong adalah salah satu gerbang human
trafficking atau perdagangan manusia. Penyelundupan-penyelundupan barang
pun banyak sekali yang dilakukan oleh “preman” yang berseragam dan mereka
juga sering melakukan pungutan liar (pungli) pada TKI illegal yang
melintas atau orang-orang Malaysia yang masuk bahkan dari pungli itu
mereka bisa mendapatkan 3 juta rupiah setiap orang dalam satu hari ketika
lagi ramai, informasi ini kuketahui langsung dari temanku yang sering
melakukan penyelundupan peralatan elektronik dari Malaysia yang harganya
jauh lebih murah di bandingkan dengan harga pasar di Indonesia dan aparat
yang bertugas dilapangan, chaos sekali kondisinya. Inilah kebiasaan yang
mulai membudaya dan sudah jadi rahasia umum, tentunya praktek illegal
seperti ini harus dihapuskan ! Kita memang masih payah mengelola wilayah
perbatasan.

Dari berita yang kubaca, kondisi pulau Sebatik, propinsi Kalimantan Timur
yang berbatasan langsung dengan Sabah Malaysia tidak jauh berbeda. Kondisi
jalan di pulau ini berupa jalan yang tidak beraspal, jika hujan mengguyur
maka akan susah melintasi jalanan daerah ini karena becek dan licin. di
Kotanya, kondisinya relatif lebih ramai, ada berbagai jenis kendaraan dan
listrik, namun listrik yang ada di pulau ini sangat minim, sehingga sangat
sulit memperoleh fasilitas listrik yang bisa digunakan untuk mendukung
industri menengah apalagi untuk industri besar, tentunya ini salah satu
penghambat kemajuan.

Dari pulau sebatik, jika kita memandang ke arah utara, maka akan terlihat
dengan jelas kota Tawau Malaysia, jika melihat pemandangan kota Tawau dan
kemudian membandingkan dengan kondisi Sebatik saat ini sungguh bagaikan
bumi dan langit. kota Tawau begitu maju dan berkembang pesat secara
ekonomi, sementara Sebatik, masih saja diam di tempat dan tidak beranjak.
Inilah gambaran nyata dari kondisi daerah perbatasan di Negara kita,
mungkin kondisi ini tidak jauh berbeda dengan perbatasan dengan Papua
Nugini maupun Timor Leste. Banyak hal tentunya yang masih bisa kita
lakukan untuk memperbaiki kondisi ini, karena wilayah perbatasan sangat
rentan.

Menurut saya, pembangunan infrastruktur yang berkesinambungan dan
peningkatan kualitas pendidikan harus jadi prioritas sehingga rasa
nasionalisme yang luntur itu dapat terobati dengan kepedulian Negara yang
tidak mendiskriminasikan daerah tertentu dalam pembangunan. Pemerintah
daerah, pemerintah pusat, pihak swasta dan masyarakat setempat harus
bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di perbatasan
sehingga tidak terulang lagi kasus lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan
maupun Timor-timur, tentunya ini menjadi tugas rumah kita semua dan butuh
kerja keras semua pihak untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera dan
berdaulat.

Ya’Asurandi

Indonesia dalam wajah partai politik ??

Posted in Uncategorized with tags on February 2, 2009 by asurandi

Sabtu- Minggu, seringkali yang kurasakan bukanlah weekend tapi adalah hari-hari kegiatan diluar kampus. Kali ini diminta untuk mewakili pemuda salah satu partai untuk mengikuti sebuah pelatihan yang bertema “ Party Youth Development and Volunteer Outreach Program”. Ini jadi weekend yang menantang begitu gambaranku ketika menyambut telpon “perintah” ketika itu …

Acara yang di ikuti oleh para anggota partai peserta PEMILU 2009 yang diselenggarakan oleh International Republican Institute (IRI). Adapun yang hadir adalah perwakilan dari partai tingkat Jawa Timur. Ada yang menarik untuk dipelajari …

Awalnya aku begitu bersemangat ketika menghadiri pelatihan karena ini kali kedua bagiku untuk bertemu dengan para anggota partai peserta PEMILU 2009, karena pada pelatihan pertama aku datang terlambat karena baru dihubungi untuk mewakili partai pukul 11.00 sedangkan acara dimulai pukul 08.00 pagi, telat banget pastinya kan .. heee. Dan tidak banyak komunikasi yang dapat kulakukan karena memang kesempatan untuk berkomunikasi kala itu, kecil. That’s the first time. Mulailah acara dimulai, rasa kecewa itu pun muncul, kenapa ? Karena acara rencana dimulai pukul 08.00 ternyata baru dapat dimulai pukul 09.15, apa sebab ?? karena para peserta telat ! Aku dan temanku datang pukul 07.50 .. waktu itu yang baru dating Cuma aku, temanku dan 3 orang panitia..sedihkan, apa yang aku kecewakan ?? BUDAYA JAM KARET. Ini yang menjadi otokritik dan kritik bagi semua karena mengabaikan masalah waktu, padahal WAKTU itu sangat berharga. Sampai ada pepatah yang mengatakan “ Waktu adalah uang “ dan Waktu tak akan pernah berulang .. sungguh ironis, bangsa yang besar seperti ini tetapi semangat rakyatnya untuk TEPAT WAKTU sangat minim. Bayangkan apa yang terjadi pada UGD jika dokternya telat … wuih, bisa menyebabkan kematian.

Presentasi pertama dimulai, cukup menarik apa yang disampaikan SEAN WASH tentang Mencari volunteer, kampanye bahkan sampai memastikan pemilih mencoblos pada saat hari pencoblosan. Mulailah berdiskusi, banyak partai yang mengeluh karena masyrakan sudah “ mata duitan”, volunteer sudah menentukan tariff jasa, calon konstituen sudah pandai pasang harga akan suara mereka pada hari pemilihan dan banyak lagi keluhan-keluhan yang disampaikan. Yang membuat jengah adalah sikap pesemistis beberapa partai terhadap kondisi seperti ini bahkan mereka sudah beranggapan bahwa rakyat tidak cerdas, sehingga untuk menang tidak perlu memberikan percerdasan politik untuk rakyat, biarkan rakyat tetap dicekoki dengan dangdut, pesta-pesta dan hal lain nya yang bersifat instan. Mereka berpikir buntu …. Dengan ini saya mencoba menyimpulkan, bahwa banyak partai yang malas bekerja untuk menjangkau pemilihnya, mereka cuma perlu rakyat ketika mendekati PEMILU saja ! Inilah Indonesia, sebuah kenyataan yang perih ….hiks

Orang-orang yang malas berpikir, ketika melihat sikap beberapa perwakilan partai yang hadir. Terlihat mereka malas berpikir, ini ketika pemateri memberikan sebuah soal tentang waktu yang dibutuhkan untuk meraup suara pemilih. Mereka tidak mencari solusi soal itu tapi Cuma berkomentar, skeptis dan menyerah sebelum memulai …

Dari ini semua, membuat aku ragu jika parta-partai yang tidak punya basic ideologi yang kuat dan kader yang berkualitas akan dapat memperbaiki bangsa kedepanya. Kualitas kader sangat menentukan, tanpa itu partai hanya jadi tempat mencari nafkah … tempat kerja orang-orang yang menganggur bukan lagi sebagai tempat bekerja orang-orang yang punya cita-cita mulia untuk Negara.

Semoga Partai yang memenangkan PEMILU 2009 nanti adalah partai yang punya basic ideology kuat dan kader-kadernya berkualitas secara keilmuan dan moral agar negeri ini bisa terbebas dari setan kebodohan den kemiskinan. Rasanya sudah lelah diri ini melihat penderitaan rakyat, pendidikan mahal, rumah sakit seperti jadi hotel bagi orang miskin dan banyak lagi permasalahan Negara ini yang menjadi tugas kita bersama. Partai bukan tempat mencari uang tapi adalah salah satu tempat untuk memperbaiki Negara. Indonesia harus lebih baik !

Hari-Hari Gila dan Tren Bunuh Diri

Posted in Uncategorized on January 17, 2009 by asurandi

Aku kira wajar kalo di Jepang  kasus bunuh diri begitu besar. Hari ini aku mengalami betapa maniak kerja bisa menyebabkan stress yang berkepanjangan dan gampang terserang penyakit.

Jam 15.30 hari ini rasanya kepalaku mau pecah, mata mau keluar berjalan pun rasanya seperti orang mabuk. Kepalaku pusing sekali. Tau apa yang menyebabkan ini ? Akibat kebodohan sendiri. Tidur jam 3 pagi, bangun jam 05.30 terus mandi, presentasi dan presentasi lagi sampai tidak sempat untuk makan. Jam 15. 30 itu baru semua nya terasa…hiks..

Pulang, langsung makan dan minum obat tidur sore kemudian bangun maghrib …wuih kepalaku masih pusing terus ke masjid pun rasanya ketika sujud mataku mau ikutan lepas akibat gaya tarik gravitas (hiperbolik banget ..heee). Akhirnya aku minum obat untuk yang kedua kalinya, 15 menit kemudian pusing kepalaku agak mendingan, yah berangkatlah ke kampus buat ngerjakan tugas seminar …

sampailah tulisan ini dibuat setelah tugas selesai dikerjakan. Alangkah indahnya hidup kawan ….

Banyak sms masuk, tapi sayang aku tidak punya pulsa. Dengan segala tekanan hidup yang kujalani syukurlah aku tidak pernah berniat bunuh diri, dari gagal sebagai orang yang bisa mencintai, bisnis yang belum berhasil sampai merasa wajah yang nggak ganteng-ganteng amat tapi aku bersyukur atas semua yang kumiliki. Inilah kunci hidup agar nggak gampang bunuh diri alias klimaks dari putus asa, yaitu BERSYUKUR.

Bersyukur ketika mendapat nikmat. Sabar ketika mendapat ujian dan tabah agar dapat bangkit dari keadaan yang belum baik. Quote hari ini buat sahabat-sahabatku.

Menjadi bangsa yang berdaulat mengelola kekayaan alam sendiri

Posted in Uncategorized on January 16, 2009 by asurandi

Negara Indonesia adalah negara yang seharusnya kaya raya dengan sumber bahan tambang yang begitu banyak. Mulai dari emas, tembaga, bijih besi, minyak bumi, batubara, gas dan bahan tambang lainya. Seharusnya pertambangan merupakan kekayaan alam yang penting dan menjadi modal yang kuat untuk memajukan bangsa. Tapi sungguh ironis setelah 63 tahun kita merdeka ternyata sumber daya alam yang harusnya jadi penopang dalam membiayai pembangunan di negara ini sedikit sekali kontribusinya jika dibandingkan dengan cukai rokok (rokok yang nyata-nyata nya nggak sehat aja bisa menjadi pemasukan negara yang besar .. negara yang aneh). Sumber daya alam yang melimpah harusnya bisa menjadi sumber penghidupan bagi rakyat kita untuk menjadi sejahtera. Tapi dunia pertambangan ternyata justru menyebabkan banyak masalah seperti perusakan lingkungan, pelanggaran HAM, praktek korupsi dan lain sebagainya.

UU Minerba yang disahkan persis berdekatan dengan UU BHP sungguh sebuah skenario menghancurkan negara yang baik. Hancurkan sumber daya manusianya, rampok kekayaan alamnya.. mantap benar dah strateginya ! Cuih ..Harusnya hal ini menjadi perenungan bagi kita semua. Dengan dalih menghormati kontrak tambang yang sudah dijalankan pemerintah rela rakyat yang hidup menderita. kenapa menderita ??? Karena harusnya pendapatan negara dalam bidang pertambangan begitu banyak tetapi dengan kontrak yang merugikan tentunya keuntungan diraup oleh perusahaan bukan masuk kas negara. Sehingga harusnya negara bisa mensubsidi rakyat terkait pendidikan dan kesehatan tapi nyatanya tidak, bahkan melepaskan tanggungjawab itu. Pemerintah yang sesat pikir, mereka lupa tugas mereka adalah melayani rakyat bukan para kapitalis yang rakus itu ! Boro-boro ngurusi rakyat, yang mereka pikirkan adalah bagaimana pada PEMILU 2009 nanti mereka dapat terpilih lagi dan meneruskan kerja mereka sebagai sapi perahan bangsa asing yang sangat sedikit sekali memberikan keuntungan buat rakyat negeri ini terutama rakyat kecil. Jumlah orang miskin di Indonesia sebesar 110 juta jiwa itu mungkin belum cukup banyak bagi pemerintah dan mereka akan memperbanyak lagi dengan membuat UU yang selalu berpihak pada kapitalis rakus, ini yang sebenarnya menjadi musuh kita bersama. Memang bangsa ini sangat kekurangan sekali pengusaha (wirausaha) tetapi harapanya nanti yang muncul bukan pengusaha-pengusaha rakus, tapi pengusaha yang punya rasa nasionalis yang besar dan punya tanggungjawab sosial yang tinggi. Mereka akan membantu negara membuka lapangan usaha … Itu dia yang benar.

Tambang-tambang yang ada sudah seharusnya dikelola oleh pengusaha lokal, karena sumber daya manusia bangsa ini mampu untuk mengelola sendiri dengan kemampuan sains dan teknologi yang ada. Banyak orang pintar di negeri ini tapi sayangnya negara seringkali tidak peduli terhadap mereka dan tentunya rumput di rumah tetangga lebih hijau, jadilaha brain drain terjadi. Manusiawi sekali …

Kalo pun akan di ekspor tentunya tidak lagi mengekspor barang mentah yang kurang mempunyai nilai tambah, tapi kita sudah mampu mengolah sendiri barang tambang itu menjadi barang yang bernilai tambah sehingga keuntungan yang didapat akan bertambah dan itu tentunya baik sekali untuk kesejahteraan rakyat. Tentunya untuk mewujudkan itu, perlu adanya political will pemerintah yang berani dan konsisten untuk benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pelayan rakyat.

Oleh karena itu dibutuhkan pemimpin-pemimpin baru yang lepas dari lingkar setan rezim koruptor Indonesia, sehingga punya keberanian dalam menasionalisasikan aset-aset strategis bangsa dan ini akan menjadi modal bagi bangsa kita untuk mensejahterakan rakyatnya. Sehingga tidak perlu lagi orang miskin takut untuk sakit, berani bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik dengan diberikanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan bahkan sampai di perguruan tinggi. Inilah sebenarnya fungsi negara, MELAYANI RAKYAT !

Toko Lengkap ( Kapal, Mineral Tambang dan Hasil Hutan )

Posted in Uncategorized on January 16, 2009 by asurandi

Jual Kapal :

Barge 300 feet tahun 2005, 2006 dan 2007

Tug Boat mesin Catterpillar 2 x 1200 HP

Kapal Kargo Berbagai Tipe

Kapal Tanker Berbagai Tipe

Dijual :

Dump truck HINO 10 Ban
Kapasitas 20 Ton tahun 2003.

Keterangan :

Ada 2 tipe :

- Dump Truck yang sudah terpakai sebanyak 40 unit @ Rp. 380 juta

- Dump Truck yang belum terpakai sebanyak 75 unit @ Rp. 400 juta

Unitnya di Jakarta semua.

Jual Mineral Tambang :

Batu Bara 6300- 6100 kal

Batu Bara 5800-5600 kal

Mangan 40% daerah Blitar

Jual Hasil Hutan :

Kayu Bangkirai Kalimantan Barat

Bagi yang berminat bisa kirim email ke : asurandi_2@yahoo.com

Mobile : 085257588869 Asurandi

Aksi CABUT BHP

Posted in Uncategorized on January 15, 2009 by asurandi

Tergabung dalam PORTAL BHP, kemaren 14 Januari 2009. Forum kampus ITS mengadakan aksi CABUT UU BHP. Beberapa organ dari kampus ITS, UNAIR, UNESA, IAIN Sunan Ampel, UPN, UNTAG dan UNITOMO tergabung dalam PORTAL BHP. Aksi yang di ikuti 120 orang mahasiswa. Tuntutan yang kami usung dalam PORTAL BHP ini adalah :

1. CABUT UU BHP

2. Realisasikan Anggaran Pendidikan 20 % dari APBN/APBD ( diluar gaji pendidik dan pendidikan kedinasan)

3. Pendidikan murah untuk anak-anak buruh tani, dan rakyat miskin

4. Tolak privatisasi dan komersialisasi pendidikan

Sungguh ini akan menjadi perjuangan yang panjang, karena sampai detik ini pemerintah malah menantang untuk uji materiil di UU BHP. Hah, gila nggak ? mereka masih ngotot berpikir bahwa UU ini adalah solusi untuk permasalahan pendidikan di Indonesia. Apalagi Bambang Sudibyo (Menteri Pendidikan) tuh, wuih … kayak cukongnya asing, jelas kita ketahui bahwa dengan BHP nanti peluang investasi di dunia pendidikan akan semakin besar dan terbuka lebar tentunya yang akan bisa mendapat kesempatan untuk berinvestasi adalah para pemodal-pemodal besar dan itu banyak dari asing. Repot kan … Bisa jadi Indonesia lebih mengerti budaya asing ketimbang budaya negara sendiri. BHP analog dari perusahaan, nah.. bisa dibayangkan kalo institusi pendidikan berubah fungsi jadi perusahaan. Memang disebutkan bahwa BHP adalah badan NIRLABA tapi tentunya hal ini cuma jadi “tameng” saja…karena tata kelola perusahaan adalah bagaimana mandiri dan mencari untung sebanyak-banyaknya dari usaha-usaha yang dilakukan. Ini semakin mempertegas LEPAS TANGAN dari pemerintah ! Ketika BHP bangkrut atau tidak mampu membiayai operasionalnya maka akan ada pailit atau langkah penyelamatan bisa dengan merger… Bisa-bisa ntar ITS merger dengan ITATS .. heee, dunia pendidikan semakin ngawur !

Tapi kok, para penguasa di negeri ini pada mikirin gimana 2009 mereka bisa terpilih lagi bukanya ngurusi masalah yang sangat urgen untuk kemajuan bangsa ini yaitu PENDIDIKAN. Tidak ada satu pun bangsa di dunia ini yang maju tanpa dengan pendidikan. SBY – JK tentunya sudah tidak layak dipilih, Megawati sama saja … apalagi Mbah Gusdur .. heee

Indonesia harus melakukan perubahan mendasar, ganti pemimpin yang punya visi jauh dan berani berimpian !

PENDIDIKAN DAN KESEHATAN rakyat harus jadi prioritas utama tanpa itu jangan pernah merasa pro-rakyat !

Hikmah dimana saja

Posted in Uncategorized on January 12, 2009 by asurandi

Abis maem tadi langsung gosok gigi, nggak tau kok tiba-tiba kepikiran lulus kuliah, terus kerja, bisnis dan menikah …deg ! kepikiran mati, aku jadi takut jadi kepikiran. Sudah siapkah mati ?? Sudah berapa banyak dosa yang kulakukan ?? Beberapa hari ini badanku lemas, sakit. Walau tetap berangkat ke kampus,  karena aku yakin kalo di kos pasti kerjanya tidur ajah. Ngak produktif walau sebenarnya beberapa minggu ini di kampus pun aku sudah kurang produktif, tulisanku mulai jarang terbit buat menghangatkan suasana kampus (lebih tepatnya, provokasi). Mulai jenuh dengan rutinitas, malas. Bahaya sekali, merasa nyaman adalah bahaya ! itu yang kutakutkan selama ini … Mulailah mengingat- ingat kembali hal yang dapat memotivasi kita (baca:kontemplasi)

Hikmah buat kita …

Sekitar satu minggu lalu, aku sempat bercakap-cakap dengan seorang anak kecil kelas 4 SD. Dia adalah anak yang biasa memunguti sampah-sampah yang bisa dijual lagi (baca:pemulung). Dari sorot mata dan keceriaanya aku tau anak itu adalah anak cerdas, dia bagiku termasuk beruntung karena bisa sekolah untuk anak yang biasa menjadi pemulung. Pemulung ? apakah mereka pernah bercita-cita menjadi pemulung ? tentunya tidak, tapi keadaan memaksa. Anak sekecil itu harus bekerja untuk memberikan tambahan nafkah buat orang tuanya, aku merasa malu. Sudah sebesar ini masih minta ke orang tua, bisnis yang kujalani (dunia : mediator/makelar) belm mebuahkan hasil secara materi tapi kalo secara pengalaman sudah banyak banget. Bercakap-cakap sama dia, dengan bercanda dan lainya, ya rasanya seprti ponakan ku sendiri… banyak bicara, cerdas dan kritis. Semoga itu jadi modal bagi adek “pemulung” tadi untuk menghadapi hidup yang kejam ini, belum banyak yang bisa saya bantu … mungkin dengan tulisan ini akan mengingatkan saya padamu. Hikmah itu dimana saja ..

Try to be better than this

Posted in Uncategorized with tags on January 12, 2009 by asurandi

Setelah sekian lama, account ini tidak dipedulikan karena kehilangan password (bodoh banget yach ..) akhirnya dengan niat dan semangat 45, di urus lagi lah account ini. Abis ini account wordpress pertama aku dan isinya berkesan abis buatku yang sedang belajar kehidupan, terombang ambing karena bingung memilih .. kok jadi sepanjang ini yach, malahan tadi cuma mau ngabari bahwa account ini aktif lagi.
Sekarang lagi masa ujian akhir semester, mata kuliah yang terambil 15 sks, ironis yach. Malahan harusnya nggak dapat segitu dech. Tapi tentunya dari segala sesuatu yang terjadi ada hal yang kupelajari dari ini. Yah..hidup emang sebuah pembelajaran tiada akhir. Ada rasa bersalah sama keluargaku di Kalimantan, harapanku semester depan sudah lulus tapi seperti belum bisa. Belum bisa, karena kesalahanku yang menyepelekan sesuatu, kebiasaan buruk ! Ada pelajaran yang kuambil dari kesalahanku kali ini, jangan terlalu mempercayai seseorang karena bisa jadi orang yang kita percayai tak sebaik yang kita kira. Mereka juga manusia biasa …
Surabaya under attack ! Tiap hari hujan, kemaren kos kebanjiran pas aku pulang sekitar jam 23.45 wiba. Anak-anak kos pada bersihin dan cidukin air biar air yang masuk kedalam menjadi berkurang. Tapi kali ini aku pengen apatis (apatis kok pengen .. hee) jadi aku nggak ngebantuin teman-teman. Ngantuk banget, pengen tidur …. Abis sms-smsan ama teman se-antero Indonesia, kebetulan lagi ada pulsa tadi malam baru kemudian tidur …zzzzzz
Hari ini sumpek banget, nggak tau sumpek kenapa ?! Baru sekarang (baca: jam 19.28 wiba) agak baikan, baru bisa mikir.. tadi bawaanya pengen marah ajah, padahal aku lagi nggak datang bulan ( emang aku cewek apa?! ). Setelah kondisi kepalaku lumayan, akhirnya tulisan ini tertuliskan dengan mengalir ditengah kepenatan…
Love you

Belajar dari awan

Posted in Uncategorized on June 12, 2007 by asurandi

Belajar dari Awan

Hari itu satu pekan panjang yang penuh dengan kesibukan mengajar keliling negeri telah kulewati sekali lagi. Seperti biasa aku ingin menikmati situasi santai dalam penerbangan pulang, membaca yang ringan-ringan, bahkan memejamkan mata beberapa menit bilamana sempat. Kendatipun demikian, aku mencoba menerima apa pun yang akan terjadi.

Maka biasanya aku mengucapkan doa pendek berikut: Siapa pun yang Kautakdirkan duduk di sebelahku, biarlah ia seperti apa adanya, dan bantulah aku agar dapat menerima apa pun yang tersedia bagiku.

Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk ke dalam pesawat, ternyata seorang anak kecil, sekitar delapan tahun, duduk pada kursi dekat jendela di sebelahku. Aku menyukai anak-anak. Namun, aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, ‘Apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini.’ Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapanya dan mengajaknya berkenalan. Ia menyebutkan namanya, Bradley. Kami langsung mengobrol dan, hanya dalambeberapa menit, ia menaruh kepercayaan kepadaku, dengan berkata,

“Ini pertama kali saya naik pesawat. Saya agak takut.” Ia bercerita kepadaku bahwa ia dan keluarganya baru menjenguk sepupu-sepupunya, dan ia diminta tinggal lebih lama sedangkan orangtuanyapulang terlebih dahulu. Kini ia pulang sendirian, dengan pesawat terbang.

“Naik pesawat itu keciiil,” kataku, berusaha menumbuhkan keyakinannya. “Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah di antara yang pernah kaulakukan.” Aku diam sejenak, untuk berpikir, dan kemudian aku bertanya kepadanya, “Pernahkah kau naik roller coaster?” “Saya senang naik roller coaster! “Pernahkah kau menaikinya tanpa berpegangan? “Oh, ya. Saya seneng sekali.” Ia tertawa. Sementara aku berpura-pura ketakutan. “Pernahkah kau naik di depan?” tanyaku lagi dengan wajah pura-pura merasa ngeri.”Ya. Saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan!”
“Dan kau tidak merasa takut?” Ia menggelengkan kepalanya, tampaknya ia kini telah merasa berhasil mengimbangi aku. “Sesungguhnyalah, penerbangan ini tidak seberapa dibanding naik roller coaster. Aku tidak berani naik roller coaster, tapi aku tidak takut sama sekali bila naik pesawat terbang.” Seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, “Betulkah itu?” Aku dapat melihat bahwa ia mulai berpikir bahwa mungkin ia memang pemberani.
Pesawat mulai ditarik menuju ke ujung landasan. Dan ketika akhirnya pesawat itu meluncur naik, ia memandang ke luar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya, dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis di angkasa. “Awan yang ini seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatanseperti seekor kuda!”
Tiba-tiba, aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahu Rasanya seolah-olah aku baru pertama kali itu terbang.Belakangan Bradley bertanya tentang pekerjaanku. Aku bercerita tentang pelatihan yang kuselenggarakan, dan mengatakan bahwa aku juga membintangi iklan untuk radio dan televisi.
Matanya langsung bersinar. “Saya dan adik saya pernah menjadi bintang iklan televisi.” “Oh, ya? Bagaimana rasanya? Ia bercerita bahwa pengalaman itu sangat mengesankan. Kemudian ia berkata bahwa ia perlu ke kamar kecil. Aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Bradley beringsut-ingsut menuju ke kamar kecil di belakang. Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan, “Saya menderita distrofi otot. Adik perempuan saya juga – ia bahkan harus memakai kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan. Kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita distrofi otot.”

Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum, dan bicara dengan nada yang agak-agak malu, “Tahukah Anda, saya betul-betul khawatir tentang siapa yang akan duduk di sebelah saya di pesawat. Saya takut ia orang yang ketus, yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang bisa duduk bersebelahan dengan Anda.”

Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya, aku diingatkan tentang untungnya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begitu selesai aku justru menjadi siswa.

Sekarang setiap kali aku merasa suntuk – dan itu cukup sering – aku memandang ke luar jendela dan mencoba menebak bentuk awan yang terlukis di angkasa.Dan aku teringat dengan Bradley, anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu. (Chicken soup)

Kisah seekor Tikus

Posted in Uncategorized on June 12, 2007 by asurandi

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan pikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”"Wah, aku menyesal dengar khabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!”

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. ” Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?” kata lembu itu sambil ketawa. Jadi tikus itu kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan-bahan untuk supnya itu. Penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu.

Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu.

Moral kisah ini:
Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu pikir itu tidak ada kaitannya dengan kamu, ingatlah bahwa apabila ada ‘perangkap tikus’ di dalam rumah, seluruh ‘ladang pertanian’ ikut menanggung risikonya.